Anak-Anak Itu Menyontoh
Bagi kalian yang suka mengikuti berita politik di Indonesia, pasti kalian tau dong kalo lagi ada 'sesuatu' yang terjadi di salah satu parlemen? Yaitu pelengseran paksa ketua parlemen tersebut. Pasti kalian juga tau apa yang terjadi saat anggota-anggota tersebut sedang berada dalam ruangan mereka? Mereka adu bacot satu sama lain, bahkan adu fisik. Don't you think kalau sikap mereka disaksikan di seluruh Indonesia? Apa mereka gak malu atas kelakuan yang jelas-jelas melanggar etika berpolitik? Honestly, gue jarang-jarang sih ngikutin berita politik, karena gue gak terlalu interest sama politik. But for this one, gue punya daya tarik dan fokus tersendiri terhadap kelakuan-kelakuan pejabat tinggi di Indonesia.
Yang bisa membuat gue tertarik dengan topik hangat yang satu ini adalah, kelakuan mereka yang secara gak langsung dicontoh oleh anak bangsa sendiri, bukan masalah yang mereka alami. Mereka gak sadar kalau kelakuan mereka bisa menjadi boomerang buat mereka sendiri? Mereka gak sadar kalau anak-anak itu menyontoh? Menyontoh sesuatu yang tidak seharusnya dicontoh. Coba lihat anak-anak jaman sekarang yang lebih memakai jalan yang salah untuk menyelesaikan suatu masalah, apa mereka kira dengan 'melakukan' semua itu, masalah akan terselesaikan? Enggak. Itu justru memperumit masalah dan bahkan gak berujung.
Bagian yang paling gue benci dalam berita satu ini adalah, jangan mentang-mentang mereka pejabat tinggi, punya kedudukan penting apalagi di Indonesia, punya nama di susunan pemerintah, terus mereka bisa seenaknya bertingkah. Apa mereka sebenarnya menyadari apa yang mereka perbuat di mata publik? Apa mereka sebenarnya masih punya rasa malu terhadap bangsanya sendiri? Jika mereka masih punya rasa malu, pasti mereka akan menyelesaikan masalah penting ini dengan akal sehat, jika enggak? bisa dilihat bagaimana tindakkan mereka sekarang.
Coba sekarang bandingkan dengan anak-amak jaman sekarang, mereka lebih memilih menyeselesaikan persoalan dengan hal-hal yang bisa merugikan diri mereka sendiri, kaya misalnya tawuran, berdasarkan berita yang gue baca, tawuran itu sebenarnya terjadi karena masalah sepele yang kemudian dibesar-besarkan, masalah pribadi yang seolah-olah menjadi masalah antar kubu. Belum lagi kalau tawuran itu memakan korban, belum lagi mencemarkan nama baik sekolah atau seseorang, yang rugi siapa? Funny enough bagi mereka yang gak tau gimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan akal sehat.
Itulah kelucuan yang dibuat oleh bangsa kita, membesar-besarkan sesuatu yang harusnya bisa diminimalisir sehingga akhirnya bisa memicu keributan yang tak berujung. Masalah yang harusnya tidak menjadi fokus bangsa Indonesia, malah menjadi pusat perhatian.
-raf
Komentar
Posting Komentar